Kuesioner merupakan teknik pengumpulan
data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis
kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data
yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu
apa yang bisa diharapkan dari responden.
Uma Sekaran (1992) mengemukakan beberapa
prinsip dalam penulisan angket sebagai teknik pengumpulan data yaitu: prinsip penulisan, pengukuran dan penampilan
fisik.
1.
Prinsip
Penulisan Angket:
Prinsip ini menyangkut beberapa faktor
yaitu: isi dan tujuan pertanyaan, bahasa yang digunakan mudah, pertranyaan tertutup-terbuka
negatif-positif, pertanyaan tidak mendua, tidak menanyakan hal-hal yang sudah
lupa, pertanyaan tidak mengarahkan, panjang pertanyaan, dan urutan pertanyaan.
a.
Isi dan tujuan
pertanyaan
Apabila isi pertanyaan berbentuk
pengukuran, maka dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus
disusun dalam skala pengukuran dan jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur
variabel yang diteliti.
b.
Bahasa yang
digunakan
Bahasa yang digunakan dalam dalam
penulisan kuesioner (angket) harus disesuaikan dengan kemampuan berbahasa
responden. Jadi bahasa yang digunakan dalam angket harus memperhatikan jenjang
pendidikan responden, keadaan sosial budaya, dan “frame of reference” dari responden.
c.
Tipe dan bentuk
pertanyaan
Tipe pertanyaan dalam angket dapat
terbuka atau tertutup. Dan bentuknya dapat menggunakan kalimat positif atau
negatif. Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang mengharapkan responden untuk
menuliskan jawabannya berbentuk uraian tentang suatu hal. Pertanyaan tertutup
akan membantu responden untuk menjawab dengan cepat, dan juga memudahkan
peneliti dalam melakukan analisis data terhadap seluruh angket yang telah
terkumpul. Pertanyaan/pernyataan dalam angket perlu dibuat kalimat positif dan
negatif agar responden dalam memberikan jawaban setiap pertanyaan lebih serius,
dan tidak mekanistis.
d.
Pertanyaan tidak
mendua
Setiap pertanyaan dalam angket jangan
mendua (double-barreled) sehingga
menyulitkan responden untuk memberikan jawaban.
e.
Tidak menanyakan
yang sudah lupa
Setiap pertanyaan dalam instrumen
angket, sebaiknya juga tidak menanyakan hal-hal yang sekiranya responden sudah
lupa, atau pertanyaan yang memerlukan jawaban dengan berfikir berat.
f.
Pertanyaan tidak
menggiring
Pertanyaan dalam angket sebaiknya juga
tidak menggiring ke jawaban yang baik saja atau yang jelek saja.
g.
Panjang
pertanyaan
Pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak
terlalu panjang, sehingga akan membuat jenuh responden dalam mengisi. Jika
jumlah variabel banyak, sehingga memerlukan instrumen yang banyak, maka
instrumen tersebut dibuat bervariasi
dalam penampilan, model skala pengukuran yang digunakan, dan cara mengisinya.
Disarankan empirik jumlah pertanyaan yang memadai adalah antara 20 s/d 30
pertanyaan.
h.
Urutan
pertanyaan
Urutan pertanyaan dalam angket, dimulai
dari yang umum menuju ke hal yang spesifik, atau dari yang mudah menuju ke hal
yang sulit, atau diacak. Urutan pertanyaan yang diacak perlu dibuat bila
tingkat kematangan responden terhadap masalah yang yang ditanyakan sudah
tinggi.
2.
Prinsip
pengukuran
Supaya diperoleh data penelitian yang
valid dan reliabel, maka sebelum instrumen angket tersebut diberikan kepada
responden, maka perlu diuji validitas dan reliabilitasnya terlebih dahulu.
Instrumen yang tidak valid dan reliabel bila digunakan untuk mengumpulkan data,
akan menghasilkan data yang tidak valid dan reliabel pula.
3.
Penampilan fisik
angket
Penampilan fisik angket sebagai alat
pengumpul data akan mempengaruhi respon atau keseriusan responden dalam mengisi
angket. Angket yang dibuat di kertas buram, akan mendapat respon yang kurang
menarik bagi responden, bila dibandingkan angket yang dicetak dalam kertas yang
bagus dan berwarna. Tetapi angket yang dicetak di kertas yang bagus dan
berwarna akan menjadi mahal.
13.52
Unknown

0 komentar:
Posting Komentar
TULIS KOMENTAR DENGAN BAHASA YANG SOPAN